MAKALAH
PENANGANAN PENCEMARAN LIMBAH
PETERNAKAN DAN PENGARUH IKLIM TERHADAP TERNAK
Diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas mandiri Biologi Umum
Dosen
Pengampu : Ina Rosdiana Lesmanawati, M.Si

Oleh
:
Hanipah (1414153121)
TMTK-D/2
TADRIS MATEMATIKA FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI
CIREBON
2014/2015
BAB II
PENANGANAN PENCEMARAN LIMBAH
PETERNAKAN DAN PENGARUH IKLIM TERHADAP TERNAK
A.
Jenis Limbah Usaha Peternakan
Limbah ternak
adalah kotoran dari kegiatan usaha peternakan, misalnya usaha rumah potong
hewan, pengolahan produk ternak, dan lain-lain. Limbah ini meliputi limbah cair
maupun limbah padat misalnya seperti urine, feses, sisa makanan, darah, bulu,
kuku, tulang, tanduk, dan lain sebagainya. Semakin banyaknya usaha peternakan
maka semakin banyak pula limbah yang dihasilkan. Banyaknya limbah yang
dihasilkan peternakan tergantung pada spesies ternak, tipe usaha, besarnya
usaha, dan banyaknya kandang.
Limbah ternak meliputi semua kotoran
yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan usaha peternakan baik itu cair, padat
maupun gas. Limbah padat merupakan limbah yang berbentuk padatan misalnya
seperti kotoran ternak, ternak yang mati, ataupun isi perut dari pemotongan
hewan ternak. Limbah cair yaitu semua limbah yang berbentuk cairan misalnya
seperti air urine, air bekas pencucian kandang maupun pencucian binatang
ternak. Sedangkan limbah gas yaitu semua limbah yang berbentuk gas, contohnya seperti
pencemaran karena gas metan (CH4) berasal dari proses pencernaan
ternak seperti ternak sapi yang menyebabkan bau yang tidak sedap bagi
lingkungan disekitar peternakan tersebut. Gas metan adalah salah satu gas yang
berpengaruh besar dalam pemanasan global dan perusakan lapisan ozon.
Salah
satu usaha yang mempunyai prospek yang baik yaitu usaha peternakan. Usaha
peternakan ini mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan karena permintaan
akan produk peternakan ini sangatlah tinggi. Selain itu usaha peternakan juga
memberi keuntungan yang cukup lumayan dan menjadi salah satu sumber pendapatan
bagi kebanyakan masyarakat yang tinggal
di daerah pedesaan. Tetapi seperti usaha yang lainnya peternakan pun pasti
menghasilkan limbah yang dapat menjadi sumber pencemaran. Oleh sebab itu,
seiring dengan kebijakan otonomi daerah maka pengembangan usaha peternakan yang
dapat menimbulkan limbah peternakan perlu diminimalkan oleh pemerintah
kabupaten atau kota untuk menjaga kenyamanan pemukiman masyarakatnya.
Salah
satu upaya yang mengarah kearah itu adalah dengan cara memanfaatkan limbah
peternakan sehingga tidak mencemari lingkungan sekaligus dapat memberi nilai
tambah bagi usaha peternakan tersebut. Kebanyakan masyarakat yang tinggal di
pedesaan semuanya berbaur dengan kegiatan-kegiatan yang ada kaitanya dengan
pertanian, karena memang itulah keahlian mereka yang digunakan untuk
mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Tidak asing jika seorang petani
selain bercocok tanam di sawah, mereka juga banyak yang memelihara ternak.
Misalnya ternak ayam kampung, ternak kambing, ternak bebek, ternak sapi, ternak
burung puyuh, ataupun ternak kerbau.
Bagi
masyarakat pedesaan, ternak-ternak seperti kerbau, sapi perah, sapimpotong,
ayam, bebek, kambing ataupun domba memiliki peranan yang sangat penting, karena
ternak-ternak tersebut dapat digunakan sebagai tabungan hidup mereka, ataupun
sebagai sumber tenaga kerja bagi ternak sapi atau kerbau. Selain itu ternak
juga dapat dipakai sebagai penghasil pupuk organik. Pupuk organik sangat baik
digunakan untuk meningkatkan produksi pertanian, selain itu ternak juga bisa
dijadikan dalam meningkatkan status sosial.
Peternakan
merupakan sumber pangan yang berkualitas, misalnya daging dan susu merupakan
bahan baku industri pengolahan pangan dimana dapat menghasilkan sosis, keju,
baso, abon, dan lain-lain. Jadi semua kegiatan-kegiatan yang ada kaitannya
dengan peternakan dapat menciptakan lapangan kerja. Selama ini masyarakat
banyak mengeluhkan akan dampak buruk dari kegiatan usaha peternakan, karena
sebagian besar peternak mengabaikan penanganan limbah dari hasil usahanya.
Bahkan tidak sedikit peternak yang membuang limbahnya ke sungai-sungai,
sehingga menyababkan pencemaran lingkungan.
Limbah
peternakan yang dihasilkan oleh aktivitas peternakan seperti feces, urin, sisa
pakan, serta air dari pembersihan ternak dan kandang menimbulkan pencemaran
yang memicu protes dari warga di sekitar peternakan tersebut. Baik itu berupa
bau tidak sedap yang menyengat, sampai keluhan gatal-gatal ketika mandi di
sungai yang tercemar oleh limbah peternakan.
Sehubungan
dengan hal tersebut, maka upaya penanganan limbah ternak yang selama ini
dianggap mengganggu karena menjadi sumber pencemaran lingkungan perlu ditangani
dengan cara yang cepat dan tepat sehingga dapat memberi manfaat lain berupa
keuntungan ekonomis dari penanganan tersebut. Penanganan limbah ini diperlukan
bukan saja karena tuntunan akan lingkungan yang nyaman teapi juga karena
pengembangan peternakan yang harus memerhatikan kualitas lingkungan, sehingga
keberadaanya tidak menjadi masalah bagi masyarakat disekitarnya.
B.
Dampak Limbah Peternakan
Limbah atau
kotoran ternak ternyata masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial
untuk mendorong kehidupan jasad renik yang dapat memicu terjadinya pencemaran.
Pencemaran air oleh limbah ternak sudah tidak asing lagi terjadi di wilayah
Indonesia. Selain melalui air, limbah peternakaan sering juga mencemari
lingkungan secara biologis yaitu sebagai salah satu media tempat berkembang
biaknya lalat.
Pencemaran dari limbah peternakaan
bukan hanya terjadi ditempat yang basah saja, tetapi kehadiran limbah ternak di
tempat yang kering pun dapat menimbulkan pencemaran misalnya limbah yang
menimbulkan debu. Pencemaran seperti ini disebut sebagai pencemaran udara,
karena debu yang dihasilkan dari usaha peternakan pun sangat berbahaya bagi
kesehatan alat pernafasan kita.
Limbah
usaha peternakan berpeluang dalam mencemari lingkungan. Oleh sebab itu, harus
ada penanganan atau pemanfaatan dari hal tersebut. Limbah ternak seperti
kotoran ternak dapat dimanfaatkan misalnya untuk dijadikan sebagai bahan pakan,
media pertumbuhan cacing, pupuk organik atau pupuk kandang, ataupun biogas.
Pemanfaatan limbah ternak akan mengurangi tingkat pencemaran lingkungan, baik
pencemaran udara, tanah, maupun air. Pemanfaatan tersebut juga menghasilkan
nilai tambah yang bernilai ekonomis.
Lingkungan
berpengaruh besar terhadap sifat genetik ternak. Penerapan ternak di daerah
yang iklimnya sesuai akan menunjang dihasilkannya produksi secara optimal. Suhu
dan kelembaban lingkungan yang tinggi dapat menyebabkan stres pada ternak
sehingga fisiologis ternak tersebut meningkat dan konsumsi pakan menurun,
sehingga produktivitasnya menurun.
C.
Penanganan Limbah Peternakan
Limbah
peternakan dapat dimanfaatkan dalam barbagai macam kebutuhan, apalagi limbah
tersebut dapat diperbaharui selama ada ternak. Limbah ternak kaya akan zat
makanan seperti protein, lemak, vitamin, mineral, dan zat-zat lain. Pemanfaatan
limbah ternak diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Pemanfaatan untuk Pakan dan Media Cacing Tanah
Sebagai
pakan ternak, limah ternak kaya akan nutrisi seperti protein, vitamin, mineral
dan zat lain. Ternak membutuhkan sekitar 46 zat makanan esensial agar binatang
ternak tersebut dapat tumbuh sehat. Limbah fees mengandung 77 zat atau senyawa,
namun didalamnya terdapat senyawa toksik untuk
ternak. Untuk itu pemanfaatan limbah ternak sebagai makanan ternak
memerlukan pengolahan yang lebih lanjut. Pemanfaatan feses sapi untuk media
tumbuhnya cacing tanah telah diteliti menghasilkan biomassa tertinggi dibandingkan
campuran feses yang ditambah bahan organik lain.
2. Pemanfaatan sebagai Pupuk Organik
Pemanfaatan
limbah usaha peternakan terutama kotoran ternak yang dijadikan sebagai pupuk
organik dapat dilakukan melalui pemanfaatan
kotoran tersebut sebagai pupuk organik. Penggunaan pupuk kompos selain
dapat meningkatkan unsur hara pada tanah juga dapat meningkatkan aktivitas
mikrobiologi tanah dan memperbaiki stuktur tanah tersebut. Kotoran ternak juga
dapat dicampur dengan bahan organik lain untuk mempercepat proses pengomposan
serta untuk meningkatkan kualitas kompos tersebut.
3. Pemanfaatan untuk Biogas
Permasalahan
limbah ternak, khususnya manure dapat diatasi dengan memanfaatkanya menjadi
bahan yang memilki nilai yang lebih tinggi. Salah satu bentuk pengolahan yang
dapat dilakukan adalah menggunakan limbah tersebut sebagai bahan masukan untuk
menghasilkan bahan bakar biogas. Kotoran ternak sangat baik digunakan untuk
bahan dasar pembuatan biogas. Contohnya ternak sapi mempunyai sistem pencernaan
khusus yang menggunakan mikroorganisme dalam sistem pencernaannya yang
berfungsi untuk mencerna selulosa dan lignin dari rumput atau tumbuhan hijau
berserat tinggi. Oleh sebab itu, pada tinja ternak sapi khususnya sapi
mengandung kandungan selulosa yang cukup tinggi. Biogas adalah campuran dari
beberapa gas tergolong bahan bakar gas yang merupakan fermentasi dari bahan
organik dalam kondisi anaerob dan gas yang dominan adalah gas metan dan gas
karbondioksida. Biogas mempunyai nilai kalor yang cukup tinggi. Produksi biogas
dapat digunakan untuk memasak, ataupun untuk penerangan.
Pembentukan
biogas dilakukan oleh mikroba pada situasi anaerob, yang meliputi tiga tahap
yaitu tahap hidrolisis, tahap pengasaman, dan tahap metanogenik. Pada tahap
hidrolisis terjadi pelarutan bahan-bahan organik yang mudah larut dan
pencernaan bahan organik yang komplek menjadi sederhana, perubahan struktur
bentuk primer menjadi bentuk monomer. Pada tahap pengasaman komponen monomer
yang terbentuk pada tahap hidrolisis akan menjadi bahan makanan bagi bakteri
pembentuk asam. Produk akhir dari gula-gula sederhana pada tahap ini akan
dihasilkan asam asetat, propionat, laktat dan zat lainnya.
4. Pemanfaatan lainnya
Selain
dimanfaatkan untuk pupuk, bahan pakan dan biogas, kotoran ternak juga dapat
dimanfaatkan sebagai bahan bakar dengan mengubahnya menjadi briket dan kemudian
dikeringkan. Briket ini telah dipraktekan di India dan dapat mengurangi
kebutuhan kayu bakar. Pemanfaatan yang lain adalah penggunaan urine dari ternak
untuk campuran dalam pembuatan pupuk cair maupun penggunaaan lainnya.
D.
Pengaruh Iklim Terhadap Ternak
Iklim
sangat berpengaruh terhadap binatang ternak. Iklim merupakan salah satu faktor
lingkungan yang berpengaruh langsung terhadap ternak, dan juga berpengaruh
tidak langsung melalui pengaruhnya terhadap faktor lingkungan yang lain.
Berbeda dengan faktor lingkungan yang lain seperti pakan dan kesehatan, iklim
tidak dapat diatur oleh manusia. Untuk mendapatkan produktivitas ternak yang
efesien manusia harus menyesuaikan dengan iklim yang ada di lingkungannya.
Iklim yang cocok untuk peternakan adalah iklim dengan curah hujan rendah dan
musim kering yang panjang. Iklim yang ada diberbagai daerah itu tidaklah sama,
melainkan berbeda-beda tergantung dari faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan
seperti letak daerah dari ekuator, distribusi daratan dan air, tanah, dan
ketinggian tempat.
Temperatur
lingkungan memengaruhi penggunaan energi yang diperoleh ternak dari makanan,
disipasi panas hewan ternak ke lingkungannya dan produksi panas. Iklim
berpengaruh terhadap bentuk tubuh, kulit atau bulu, warna, tubuh bagian dalam,
dan kesehatan produksi ternak. Pancaran sinar matahari terhadap hewan ternak
dapat menimbulkan dua macam gangguan umum, yaitu kerusakan sel kulit oleh sinar
ultra violet dan mutasi gen oleh radiasi kosmik. Binatang ternak mempunyai
kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan iklim yang terjadi.
Temperatur
lingkungan adalah ukuran dari intensitas panas dan unit standar dan biasanya
dalam skala derajat celsius. Temperatur lingkungan dapat diklasifikasikan dalam
dua komponen yaitu abiotik dan biotik. Komponen lingkungan abiotik utama yang
pengaruhnya nyata terhadap ternak yaitu temperatur, kelembaban, angin, curah
hujan, dan pancaran matahari. Temperatur lingkungan yang paling sesuai bagi
kehidupan ternak di daerah tropis adalah 10oC-27o.
Sedangkan keadaan lingkungan yang ideal untuk ternak di daerah subtropis adalah
pada temperatur 30oF-60oF dan dengan kelembaban rendah.
Kelembaban lingkungan adalah jumlah uap air dalam udara,
kelembaban udara penting karena memengaruhi kecepatan kehilangan panas dari
ternak. Iklim di Indonesia adalah panas basah yaitu klimat yang ditandai dengan
panas yang konstan, hujan dan kelembaban yang terus menerus. Suhu dan
kelembaban udara yang tinggiakan menyebabkan stres pada ternak sehingga suhu
tubuh , respirasi, dan denyut jantung meningkat, serta konsumsi pakan menurun,
dan akhirnya menyebabkan produktivitas ternak menurun dan menyebabkan
produktivitas ternak rendah.
Selama
musim hujan temperatur udara rata-rata lebih rendah, sedangkan kelembaban
tinggi dibanding pada musim panas. Jumlah dan pola curah hujan adalah faktor
penting untuk produksi tanaman dan dapat dimanfaatkan untuk suplai makanan bagi
ternak. Curah hujan dan angin juga dapat menjadi petunjuk orientasi
perkandangan ternak.
Lingkungan
termal adalah ruang empat dimensi yang cocok untuk ditempati ternak. Penerapan
ternak di daerah yang iklimnya sesuai
akan menunjang dihasilkannya produksi
secara optimal. Salah satu penentu iklim
adalah suhu lingkungan. Fisiologis ternak meliputi suhu tubuh, respirasi, dan
denyut jantung. Dalam keadaan normal suhu tubuh ternak sejenis dapat bervariasi
karena adanya perbedaan umur, jenis kelamin, iklim, panjang hari, suhu
lingkungan, aktivitas, pakan, aktivitas pencernaan dan jumlah air yang diminum.
Stres pada binatang ternak biasanya terjadi apabila terjadi perubahan
lingkungan yang ekstrim, seperti peningkatan temperatur lingkungan atau ketika
toleransi ternak terhadap lingkungan menjadi rendah.
Dunia
peternakan adalah dunia yang berkaitan dengan hewan ternak. Siapapun yang
bergelut di dalam dunia peternakan biasanya mengusahakan produksi hasil ternak yang maksimal dengan
waktu yang lebih cepat dan menyalurkannya keberbagai kalangan masyarakat untuk
sagera dikonsumsikan. Untuk mendapatkan hasil ternak yang maksimal kita harus
memerhatikan kebutuhan dari ternak tersebut. Ilmu klimatologi berguna dalam
penempatan ternak yang baik untuk menghasilkan produksi yang maksimal. Dalam
ternak juga ada proses yang kompleks dimana seekor hewan menyesuaikan diri pada
lingkungannya dimana ternak itu hidup hal itu disebut dengan aklimatasi.
Peternakan
yang baik harus memperhatikan kualitas dan kuantitas yang tersedia didaerah
sekitar kandang ternak itu sendiri seperti makanan dan air yang diminum
memengaruhi daya produksi. Jadi pada intinya iklim yang meliputi curah hujan,
temperatur, kelembaban udara, pancaran cahaya matahari, kecepatan angin, dan PH
harus kita pelajari dan harus bisa mengaplikasikannya karena berpengaruh besar
terhadap kehidupan dan produksi ternak.
E.
Cara Mengetahui Potensi Produktivitas Ternak
Potensi
produktivitas ternak pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan
serta interaksi antara genetik dengan lingkungan. Faktor genetik yang
berpengaruh adalah bangsa ternak, sedangkan faktor lingkungan antara lain
pakan, iklim, ketinggian tempat, bobot badan, penyakit, dan lain-lain.
Salah satu upaya peningkatan
produktivitas ternak sapi perah dapat dilakukan dengan jalan pengembangan usaha
pemeliharaan. Alternatif ini didasarkankarena pengembangan usaha peternakan
sapi perah selama ini masih tersentral di lingkungan dataran sedang sampai
tinggi, sehingga menjadi pembatas peningkatanproduktivitas ternak karena
wilayah Negara Indonesia sebagianbesar juga terdiri dari lingkungan dataran
rendah. Ketinggian tempat lokasi usaha peternakan dapat memengaruhi penampilan ternak
sapi perah.
Penampilan reproduksi ternak di
daerah panas dengan di daerah dingin sangat berbeda. Perbedaaan
produktivitasini berkaitan erat dengan faktor suhu dan kelembaban udara.
Interaksi suhu dan kelembaban udara dapat memengaruhi kenyamanan hidup ternak.
Stres panas terhadap penampilan reproduksi ternak disebabkan oleh peningkatan
kebutuhan maintenance sebagai upaya ternak untuk menghilangkan kelebihan beban
panas, mengurangi laju metabolis dan konsumsi pakan, sehingga mengakibatkan
keseimbangan energi negatif yang berdampak pada penurunan kemampuan berproduksi
dan sekresi hormon reproduksi yang berhubungan dengan fertilitas ternak
tersebut.
Di
dalam usaha peternakan hal-hal pertama yang perlu diperhatikan adalah keadaan
daerah tersebut. Karena, apabila keadaan iklim dan cuaca tidak sesuai dengan
sifat genetik ternak, maka akan berakibat fatal. Suhu dan kelembaban yang
tinggi dapat menyebabkan stres terhadap ternak, produktivitas tidak bisa
maksimal dan hewan akan mudah terkena penyakit.
F.
Peranan Lingkungan dalam Peternakan
Lingkungan
ternak adalah semua faktor fisik, kimia, biologi dan sosial yang ada di sekitar
ternak. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah iklim, tingkah laku ternak,
penyebab penyakit dan pengelolaan ternak.
1. Penyesuaian Diri Ternak terhadap Lingkungannya
Adaptasi
atau penyesuaian diri ternak terhadap lingkungan merupakan suatu bentuk atau
sifat tingkah laku yang ditunjukan untuk bertahan hidup atau melakukan
reproduksi dalam suatu lingkungan tertentu. Lingkungan yang tidak baik dapat
mengakibatkan perubahan status fisiologis ternak yang disebut stres. Ternak
yang terkena stres tingkah lakunya akan berubah. Cara ternak untuk mengatasi
atau mengurangi stres adalah dengan penyesuaian diri baik secara genetis maupun
fenotipe.
2. Tingkah Laku Ternak
Tingkah
laku hewan ternak berpengaruh terhadap produksi dan reproduksi hewan ternak.
Tingkah laku umum pada hewan ternak yang dapat dilihat adalah tingkah laku
makan dan minum, memimik, mengeliminasi feses dan urine, berkelahi, investigasi
dan mencari naungan, serta tingkah laku sosial. Setiap tingkah laku bersifat
khas untuk hewan-hewan tertentu.
3. Etologi Khusus dan Anomali
Terdapat
bermacam-macam penyebab stres pada ternak, seperti cuaca dingin, cuaca panas,
kekeringan, ventilasi yang tidak baik, gangguan kegaduhan, luas kandang yang
tidak mencukupi, perubahan makanan, kelaparan, kehausan, dan kesalahan
manajemen. Orang yang peduli terhadap kesejahteraan hewan ternak selalu
menganjurkan agar kesejahteraan ternak juga diperhatikan. Terdapat beberapa
tingkah laku anomali pada hewan ternak seperti menendang, mencabut bulu wol
pada domba, saling mengisap dan menggigit ekor pada babi, kanibalis memamakan
telur, mematuk bulu, histeria, dan polidipsia pada ayam.
4. Kandang Ternak
Pemeliharaan
ternak yang dikurung dalam kandang adalah salah satu ciri khas peternakan
modern. Ini merupakan salah satu faktor lingkungan ternak yang sangat penting
untuk diperhatikan di daerah tropis. Dengan mengandangkan ternak penyebaran
penyakit dapat lebih terkendali, pelayanan ternak lebih mudah, dan kerusakan
lingkungan dapat diminimalkan. Kandang ternak harus memenuhi kebutuhan fisik
maupun fisiologisternak, tahan lama, hemat energi, dan hemat lahan. Lahan untuk
lokasi kandang perlu ditentukan dengan memperhatikan luas, topografi, permukaan
air tanah, dan jarak dari pemukiman. Sedangkan bangunan kandang harus memenuhi
kebutuhan ternak sesuai dengan golongan atau status biologis ternak, yakni
bentuk bangunan, luas lantai, tata letak, arah dan jenis bahan bangunan.
5. Pakan dan Makanan Ternak
Pakan
adalah sumber bahan-bahan makanan yang diperlukan untuk menyusun atau meramu
makanan ternak. Makanan terdri atas satu atau lebihjenis bahan yang diberikan
untuk kebutuhan ternak sehari semalam. Setiap pakan ternak yang diberikan harus
berkualitas tinggi yaitu mengandung zat-zat makanan yang terdiri dari protein,
karbohidrat, lemak, mineral dan vitamin.
6. Pentingnya Air bagi Ternak
Air
merupakan kebutuhan vital untuk mempertahankan kehidupan ternak. Air juga
memegang peranan penting dalam mengangkut zat-zat makanan ke jaringan tubuhdan
membuang sisa-sisa metabolisme, membantu berfungsinya dengan baik reaksi-reaksi
enzim dan mekanisme pengaturan suhu tubuh. Apabila ternak kekurangan air maka
akan berpengaruh pada air yang diminum, makanan yang dimakan, metabolisme dan
produktivitas ternak.
G.
Pengendalian Kesehatan Ternak
Dalam
pengendalian kesehatan ternak diperlukan pengetahuan tentang berbagai aspek
yang berhubungan dengan kemungkinan kejadian penyakit pada ternak antara lain :
1. Penyebab penyakit
2. Pemindahan penyakit
3. Kekebalan terhadap penyakit
4. Tanda-tanda penyakit
5. Kontrol penyakit
Penyakit
pada ternak dapat disebabkan oleh organisme hidup, dan oleh bukan organisme
hidup. Pemindahan penyakit dapat terjadi baik secara langsung maupun tidak
langsung. Cara langsung adalah pemindahan penyakit dengan cara kontak langsung
antara ternak yang satu dengan ternak yang lain. Sedangkan cara tidak langsung
adalah cara perpindahan penyakit melalui perantara yaitu banda hidup maupun
benda mati.




