Jumat, 13 Maret 2015

MAKALAH PENANGANAN PENCEMARAN LIMBAH PETERNAKAN DAN PENGARUH IKLIM TERHADAP TERNAK



MAKALAH
PENANGANAN PENCEMARAN LIMBAH PETERNAKAN DAN PENGARUH IKLIM TERHADAP TERNAK

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mandiri Biologi Umum
Dosen Pengampu : Ina Rosdiana Lesmanawati, M.Si

Logo-IAIN.jpg
Oleh :

Hanipah (1414153121)
TMTK-D/2


TADRIS MATEMATIKA FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI
CIREBON
2014/2015
BAB II
PENANGANAN PENCEMARAN LIMBAH PETERNAKAN DAN PENGARUH IKLIM TERHADAP TERNAK

A. Jenis Limbah Usaha Peternakan
            Limbah ternak adalah kotoran dari kegiatan usaha peternakan, misalnya usaha rumah potong hewan, pengolahan produk ternak, dan lain-lain. Limbah ini meliputi limbah cair maupun limbah padat misalnya seperti urine, feses, sisa makanan, darah, bulu, kuku, tulang, tanduk, dan lain sebagainya. Semakin banyaknya usaha peternakan maka semakin banyak pula limbah yang dihasilkan. Banyaknya limbah yang dihasilkan peternakan tergantung pada spesies ternak, tipe usaha, besarnya usaha, dan banyaknya kandang.
            Limbah ternak meliputi semua kotoran yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan usaha peternakan baik itu cair, padat maupun gas. Limbah padat merupakan limbah yang berbentuk padatan misalnya seperti kotoran ternak, ternak yang mati, ataupun isi perut dari pemotongan hewan ternak. Limbah cair yaitu semua limbah yang berbentuk cairan misalnya seperti air urine, air bekas pencucian kandang maupun pencucian binatang ternak. Sedangkan limbah gas yaitu semua limbah yang berbentuk gas, contohnya seperti pencemaran karena gas metan (CH4) berasal dari proses pencernaan ternak seperti ternak sapi yang menyebabkan bau yang tidak sedap bagi lingkungan disekitar peternakan tersebut. Gas metan adalah salah satu gas yang berpengaruh besar dalam pemanasan global dan perusakan lapisan ozon.
Salah satu usaha yang mempunyai prospek yang baik yaitu usaha peternakan. Usaha peternakan ini mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan karena permintaan akan produk peternakan ini sangatlah tinggi. Selain itu usaha peternakan juga memberi keuntungan yang cukup lumayan dan menjadi salah satu sumber pendapatan bagi kebanyakan masyarakat  yang tinggal di daerah pedesaan. Tetapi seperti usaha yang lainnya peternakan pun pasti menghasilkan limbah yang dapat menjadi sumber pencemaran. Oleh sebab itu, seiring dengan kebijakan otonomi daerah maka pengembangan usaha peternakan yang dapat menimbulkan limbah peternakan perlu diminimalkan oleh pemerintah kabupaten atau kota untuk menjaga kenyamanan pemukiman masyarakatnya.
Salah satu upaya yang mengarah kearah itu adalah dengan cara memanfaatkan limbah peternakan sehingga tidak mencemari lingkungan sekaligus dapat memberi nilai tambah bagi usaha peternakan tersebut. Kebanyakan masyarakat yang tinggal di pedesaan semuanya berbaur dengan kegiatan-kegiatan yang ada kaitanya dengan pertanian, karena memang itulah keahlian mereka yang digunakan untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Tidak asing jika seorang petani selain bercocok tanam di sawah, mereka juga banyak yang memelihara ternak. Misalnya ternak ayam kampung, ternak kambing, ternak bebek, ternak sapi, ternak burung puyuh, ataupun ternak kerbau.
Bagi masyarakat pedesaan, ternak-ternak seperti kerbau, sapi perah, sapimpotong, ayam, bebek, kambing ataupun domba memiliki peranan yang sangat penting, karena ternak-ternak tersebut dapat digunakan sebagai tabungan hidup mereka, ataupun sebagai sumber tenaga kerja bagi ternak sapi atau kerbau. Selain itu ternak juga dapat dipakai sebagai penghasil pupuk organik. Pupuk organik sangat baik digunakan untuk meningkatkan produksi pertanian, selain itu ternak juga bisa dijadikan dalam meningkatkan status sosial.
Peternakan merupakan sumber pangan yang berkualitas, misalnya daging dan susu merupakan bahan baku industri pengolahan pangan dimana dapat menghasilkan sosis, keju, baso, abon, dan lain-lain. Jadi semua kegiatan-kegiatan yang ada kaitannya dengan peternakan dapat menciptakan lapangan kerja. Selama ini masyarakat banyak mengeluhkan akan dampak buruk dari kegiatan usaha peternakan, karena sebagian besar peternak mengabaikan penanganan limbah dari hasil usahanya. Bahkan tidak sedikit peternak yang membuang limbahnya ke sungai-sungai, sehingga menyababkan pencemaran lingkungan.
Limbah peternakan yang dihasilkan oleh aktivitas peternakan seperti feces, urin, sisa pakan, serta air dari pembersihan ternak dan kandang menimbulkan pencemaran yang memicu protes dari warga di sekitar peternakan tersebut. Baik itu berupa bau tidak sedap yang menyengat, sampai keluhan gatal-gatal ketika mandi di sungai yang tercemar oleh limbah peternakan.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka upaya penanganan limbah ternak yang selama ini dianggap mengganggu karena menjadi sumber pencemaran lingkungan perlu ditangani dengan cara yang cepat dan tepat sehingga dapat memberi manfaat lain berupa keuntungan ekonomis dari penanganan tersebut. Penanganan limbah ini diperlukan bukan saja karena tuntunan akan lingkungan yang nyaman teapi juga karena pengembangan peternakan yang harus memerhatikan kualitas lingkungan, sehingga keberadaanya tidak menjadi masalah bagi masyarakat disekitarnya.

B. Dampak Limbah Peternakan
            Limbah atau kotoran ternak ternyata masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk mendorong kehidupan jasad renik yang dapat memicu terjadinya pencemaran. Pencemaran air oleh limbah ternak sudah tidak asing lagi terjadi di wilayah Indonesia. Selain melalui air, limbah peternakaan sering juga mencemari lingkungan secara biologis yaitu sebagai salah satu media tempat berkembang biaknya lalat.
            Pencemaran dari limbah peternakaan bukan hanya terjadi ditempat yang basah saja, tetapi kehadiran limbah ternak di tempat yang kering pun dapat menimbulkan pencemaran misalnya limbah yang menimbulkan debu. Pencemaran seperti ini disebut sebagai pencemaran udara, karena debu yang dihasilkan dari usaha peternakan pun sangat berbahaya bagi kesehatan alat pernafasan kita.
Limbah usaha peternakan berpeluang dalam mencemari lingkungan. Oleh sebab itu, harus ada penanganan atau pemanfaatan dari hal tersebut. Limbah ternak seperti kotoran ternak dapat dimanfaatkan misalnya untuk dijadikan sebagai bahan pakan, media pertumbuhan cacing, pupuk organik atau pupuk kandang, ataupun biogas. Pemanfaatan limbah ternak akan mengurangi tingkat pencemaran lingkungan, baik pencemaran udara, tanah, maupun air. Pemanfaatan tersebut juga menghasilkan nilai tambah yang bernilai ekonomis.
Lingkungan berpengaruh besar terhadap sifat genetik ternak. Penerapan ternak di daerah yang iklimnya sesuai akan menunjang dihasilkannya produksi secara optimal. Suhu dan kelembaban lingkungan yang tinggi dapat menyebabkan stres pada ternak sehingga fisiologis ternak tersebut meningkat dan konsumsi pakan menurun, sehingga produktivitasnya menurun.

C. Penanganan Limbah Peternakan
            Limbah peternakan dapat dimanfaatkan dalam barbagai macam kebutuhan, apalagi limbah tersebut dapat diperbaharui selama ada ternak. Limbah ternak kaya akan zat makanan seperti protein, lemak, vitamin, mineral, dan zat-zat lain. Pemanfaatan limbah ternak diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Pemanfaatan untuk Pakan dan Media Cacing Tanah
Sebagai pakan ternak, limah ternak kaya akan nutrisi seperti protein, vitamin, mineral dan zat lain. Ternak membutuhkan sekitar 46 zat makanan esensial agar binatang ternak tersebut dapat tumbuh sehat. Limbah fees mengandung 77 zat atau senyawa, namun didalamnya terdapat senyawa toksik untuk  ternak. Untuk itu pemanfaatan limbah ternak sebagai makanan ternak memerlukan pengolahan yang lebih lanjut. Pemanfaatan feses sapi untuk media tumbuhnya cacing tanah telah diteliti menghasilkan biomassa tertinggi dibandingkan campuran feses yang ditambah bahan organik lain.
2.      Pemanfaatan sebagai Pupuk Organik
Pemanfaatan limbah usaha peternakan terutama kotoran ternak yang dijadikan sebagai pupuk organik dapat dilakukan melalui pemanfaatan  kotoran tersebut sebagai pupuk organik. Penggunaan pupuk kompos selain dapat meningkatkan unsur hara pada tanah juga dapat meningkatkan aktivitas mikrobiologi tanah dan memperbaiki stuktur tanah tersebut. Kotoran ternak juga dapat dicampur dengan bahan organik lain untuk mempercepat proses pengomposan serta untuk meningkatkan kualitas kompos tersebut.
3.      Pemanfaatan untuk Biogas
Permasalahan limbah ternak, khususnya manure dapat diatasi dengan memanfaatkanya menjadi bahan yang memilki nilai yang lebih tinggi. Salah satu bentuk pengolahan yang dapat dilakukan adalah menggunakan limbah tersebut sebagai bahan masukan untuk menghasilkan bahan bakar biogas. Kotoran ternak sangat baik digunakan untuk bahan dasar pembuatan biogas. Contohnya ternak sapi mempunyai sistem pencernaan khusus yang menggunakan mikroorganisme dalam sistem pencernaannya yang berfungsi untuk mencerna selulosa dan lignin dari rumput atau tumbuhan hijau berserat tinggi. Oleh sebab itu, pada tinja ternak sapi khususnya sapi mengandung kandungan selulosa yang cukup tinggi. Biogas adalah campuran dari beberapa gas tergolong bahan bakar gas yang merupakan fermentasi dari bahan organik dalam kondisi anaerob dan gas yang dominan adalah gas metan dan gas karbondioksida. Biogas mempunyai nilai kalor yang cukup tinggi. Produksi biogas dapat digunakan untuk memasak, ataupun untuk penerangan.
Pembentukan biogas dilakukan oleh mikroba pada situasi anaerob, yang meliputi tiga tahap yaitu tahap hidrolisis, tahap pengasaman, dan tahap metanogenik. Pada tahap hidrolisis terjadi pelarutan bahan-bahan organik yang mudah larut dan pencernaan bahan organik yang komplek menjadi sederhana, perubahan struktur bentuk primer menjadi bentuk monomer. Pada tahap pengasaman komponen monomer yang terbentuk pada tahap hidrolisis akan menjadi bahan makanan bagi bakteri pembentuk asam. Produk akhir dari gula-gula sederhana pada tahap ini akan dihasilkan asam asetat, propionat, laktat dan zat lainnya.
4.      Pemanfaatan lainnya
Selain dimanfaatkan untuk pupuk, bahan pakan dan biogas, kotoran ternak juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar dengan mengubahnya menjadi briket dan kemudian dikeringkan. Briket ini telah dipraktekan di India dan dapat mengurangi kebutuhan kayu bakar. Pemanfaatan yang lain adalah penggunaan urine dari ternak untuk campuran dalam pembuatan pupuk cair maupun penggunaaan lainnya.

D. Pengaruh Iklim Terhadap Ternak
Iklim sangat berpengaruh terhadap binatang ternak. Iklim merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh langsung terhadap ternak, dan juga berpengaruh tidak langsung melalui pengaruhnya terhadap faktor lingkungan yang lain. Berbeda dengan faktor lingkungan yang lain seperti pakan dan kesehatan, iklim tidak dapat diatur oleh manusia. Untuk mendapatkan produktivitas ternak yang efesien manusia harus menyesuaikan dengan iklim yang ada di lingkungannya. Iklim yang cocok untuk peternakan adalah iklim dengan curah hujan rendah dan musim kering yang panjang. Iklim yang ada diberbagai daerah itu tidaklah sama, melainkan berbeda-beda tergantung dari faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan seperti letak daerah dari ekuator, distribusi daratan dan air, tanah, dan ketinggian tempat.
Temperatur lingkungan memengaruhi penggunaan energi yang diperoleh ternak dari makanan, disipasi panas hewan ternak ke lingkungannya dan produksi panas. Iklim berpengaruh terhadap bentuk tubuh, kulit atau bulu, warna, tubuh bagian dalam, dan kesehatan produksi ternak. Pancaran sinar matahari terhadap hewan ternak dapat menimbulkan dua macam gangguan umum, yaitu kerusakan sel kulit oleh sinar ultra violet dan mutasi gen oleh radiasi kosmik. Binatang ternak mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan iklim yang terjadi.
Temperatur lingkungan adalah ukuran dari intensitas panas dan unit standar dan biasanya dalam skala derajat celsius. Temperatur lingkungan dapat diklasifikasikan dalam dua komponen yaitu abiotik dan biotik. Komponen lingkungan abiotik utama yang pengaruhnya nyata terhadap ternak yaitu temperatur, kelembaban, angin, curah hujan, dan pancaran matahari. Temperatur lingkungan yang paling sesuai bagi kehidupan ternak di daerah tropis adalah 10oC-27o. Sedangkan keadaan lingkungan yang ideal untuk ternak di daerah subtropis adalah pada temperatur 30oF-60oF dan dengan kelembaban rendah.
Kelembaban  lingkungan adalah jumlah uap air dalam udara, kelembaban udara penting karena memengaruhi kecepatan kehilangan panas dari ternak. Iklim di Indonesia adalah panas basah yaitu klimat yang ditandai dengan panas yang konstan, hujan dan kelembaban yang terus menerus. Suhu dan kelembaban udara yang tinggiakan menyebabkan stres pada ternak sehingga suhu tubuh , respirasi, dan denyut jantung meningkat, serta konsumsi pakan menurun, dan akhirnya menyebabkan produktivitas ternak menurun dan menyebabkan produktivitas ternak rendah.
Selama musim hujan temperatur udara rata-rata lebih rendah, sedangkan kelembaban tinggi dibanding pada musim panas. Jumlah dan pola curah hujan adalah faktor penting untuk produksi tanaman dan dapat dimanfaatkan untuk suplai makanan bagi ternak. Curah hujan dan angin juga dapat menjadi petunjuk orientasi perkandangan ternak.
Lingkungan termal adalah ruang empat dimensi yang cocok untuk ditempati ternak. Penerapan ternak di daerah  yang iklimnya sesuai akan menunjang  dihasilkannya produksi secara optimal. Salah satu penentu  iklim adalah suhu lingkungan. Fisiologis ternak meliputi suhu tubuh, respirasi, dan denyut jantung. Dalam keadaan normal suhu tubuh ternak sejenis dapat bervariasi karena adanya perbedaan umur, jenis kelamin, iklim, panjang hari, suhu lingkungan, aktivitas, pakan, aktivitas pencernaan dan jumlah air yang diminum. Stres pada binatang ternak biasanya terjadi apabila terjadi perubahan lingkungan yang ekstrim, seperti peningkatan temperatur lingkungan atau ketika toleransi ternak terhadap lingkungan menjadi rendah.
Dunia peternakan adalah dunia yang berkaitan dengan hewan ternak. Siapapun yang bergelut di dalam dunia peternakan biasanya mengusahakan  produksi hasil ternak yang maksimal dengan waktu yang lebih cepat dan menyalurkannya keberbagai kalangan masyarakat untuk sagera dikonsumsikan. Untuk mendapatkan hasil ternak yang maksimal kita harus memerhatikan kebutuhan dari ternak tersebut. Ilmu klimatologi berguna dalam penempatan ternak yang baik untuk menghasilkan produksi yang maksimal. Dalam ternak juga ada proses yang kompleks dimana seekor hewan menyesuaikan diri pada lingkungannya dimana ternak itu hidup hal itu disebut dengan aklimatasi.
Peternakan yang baik harus memperhatikan kualitas dan kuantitas yang tersedia didaerah sekitar kandang ternak itu sendiri seperti makanan dan air yang diminum memengaruhi daya produksi. Jadi pada intinya iklim yang meliputi curah hujan, temperatur, kelembaban udara, pancaran cahaya matahari, kecepatan angin, dan PH harus kita pelajari dan harus bisa mengaplikasikannya karena berpengaruh besar terhadap kehidupan dan produksi ternak.


E. Cara Mengetahui Potensi Produktivitas Ternak
            Potensi produktivitas ternak pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan serta interaksi antara genetik dengan lingkungan. Faktor genetik yang berpengaruh adalah bangsa ternak, sedangkan faktor lingkungan antara lain pakan, iklim, ketinggian tempat, bobot badan, penyakit, dan lain-lain.
            Salah satu upaya peningkatan produktivitas ternak sapi perah dapat dilakukan dengan jalan pengembangan usaha pemeliharaan. Alternatif ini didasarkankarena pengembangan usaha peternakan sapi perah selama ini masih tersentral di lingkungan dataran sedang sampai tinggi, sehingga menjadi pembatas peningkatanproduktivitas ternak karena wilayah Negara Indonesia sebagianbesar juga terdiri dari lingkungan dataran rendah. Ketinggian tempat lokasi usaha peternakan dapat memengaruhi penampilan ternak sapi perah.
            Penampilan reproduksi ternak di daerah panas dengan di daerah dingin sangat berbeda. Perbedaaan produktivitasini berkaitan erat dengan faktor suhu dan kelembaban udara. Interaksi suhu dan kelembaban udara dapat memengaruhi kenyamanan hidup ternak. Stres panas terhadap penampilan reproduksi ternak disebabkan oleh peningkatan kebutuhan maintenance sebagai upaya ternak untuk menghilangkan kelebihan beban panas, mengurangi laju metabolis dan konsumsi pakan, sehingga mengakibatkan keseimbangan energi negatif yang berdampak pada penurunan kemampuan berproduksi dan sekresi hormon reproduksi yang berhubungan dengan fertilitas ternak tersebut.
Di dalam usaha peternakan hal-hal pertama yang perlu diperhatikan adalah keadaan daerah tersebut. Karena, apabila keadaan iklim dan cuaca tidak sesuai dengan sifat genetik ternak, maka akan berakibat fatal. Suhu dan kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan stres terhadap ternak, produktivitas tidak bisa maksimal dan hewan akan mudah terkena penyakit.

F. Peranan Lingkungan dalam Peternakan
            Lingkungan ternak adalah semua faktor fisik, kimia, biologi dan sosial yang ada di sekitar ternak. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah iklim, tingkah laku ternak, penyebab penyakit dan pengelolaan ternak.

1.      Penyesuaian Diri Ternak terhadap Lingkungannya
Adaptasi atau penyesuaian diri ternak terhadap lingkungan merupakan suatu bentuk atau sifat tingkah laku yang ditunjukan untuk bertahan hidup atau melakukan reproduksi dalam suatu lingkungan tertentu. Lingkungan yang tidak baik dapat mengakibatkan perubahan status fisiologis ternak yang disebut stres. Ternak yang terkena stres tingkah lakunya akan berubah. Cara ternak untuk mengatasi atau mengurangi stres adalah dengan penyesuaian diri baik secara genetis maupun fenotipe.
2.      Tingkah Laku Ternak
Tingkah laku hewan ternak berpengaruh terhadap produksi dan reproduksi hewan ternak. Tingkah laku umum pada hewan ternak yang dapat dilihat adalah tingkah laku makan dan minum, memimik, mengeliminasi feses dan urine, berkelahi, investigasi dan mencari naungan, serta tingkah laku sosial. Setiap tingkah laku bersifat khas untuk hewan-hewan tertentu.
3.      Etologi Khusus dan Anomali
Terdapat bermacam-macam penyebab stres pada ternak, seperti cuaca dingin, cuaca panas, kekeringan, ventilasi yang tidak baik, gangguan kegaduhan, luas kandang yang tidak mencukupi, perubahan makanan, kelaparan, kehausan, dan kesalahan manajemen. Orang yang peduli terhadap kesejahteraan hewan ternak selalu menganjurkan agar kesejahteraan ternak juga diperhatikan. Terdapat beberapa tingkah laku anomali pada hewan ternak seperti menendang, mencabut bulu wol pada domba, saling mengisap dan menggigit ekor pada babi, kanibalis memamakan telur, mematuk bulu, histeria, dan polidipsia pada ayam.
4.      Kandang Ternak
Pemeliharaan ternak yang dikurung dalam kandang adalah salah satu ciri khas peternakan modern. Ini merupakan salah satu faktor lingkungan ternak yang sangat penting untuk diperhatikan di daerah tropis. Dengan mengandangkan ternak penyebaran penyakit dapat lebih terkendali, pelayanan ternak lebih mudah, dan kerusakan lingkungan dapat diminimalkan. Kandang ternak harus memenuhi kebutuhan fisik maupun fisiologisternak, tahan lama, hemat energi, dan hemat lahan. Lahan untuk lokasi kandang perlu ditentukan dengan memperhatikan luas, topografi, permukaan air tanah, dan jarak dari pemukiman. Sedangkan bangunan kandang harus memenuhi kebutuhan ternak sesuai dengan golongan atau status biologis ternak, yakni bentuk bangunan, luas lantai, tata letak, arah dan jenis bahan bangunan.
5.      Pakan dan Makanan Ternak
Pakan adalah sumber bahan-bahan makanan yang diperlukan untuk menyusun atau meramu makanan ternak. Makanan terdri atas satu atau lebihjenis bahan yang diberikan untuk kebutuhan ternak sehari semalam. Setiap pakan ternak yang diberikan harus berkualitas tinggi yaitu mengandung zat-zat makanan yang terdiri dari protein, karbohidrat, lemak, mineral dan vitamin.
6.      Pentingnya Air bagi Ternak
Air merupakan kebutuhan vital untuk mempertahankan kehidupan ternak. Air juga memegang peranan penting dalam mengangkut zat-zat makanan ke jaringan tubuhdan membuang sisa-sisa metabolisme, membantu berfungsinya dengan baik reaksi-reaksi enzim dan mekanisme pengaturan suhu tubuh. Apabila ternak kekurangan air maka akan berpengaruh pada air yang diminum, makanan yang dimakan, metabolisme dan produktivitas ternak.

G. Pengendalian Kesehatan Ternak
            Dalam pengendalian kesehatan ternak diperlukan pengetahuan tentang berbagai aspek yang berhubungan dengan kemungkinan kejadian penyakit pada ternak antara lain :
1.      Penyebab penyakit
2.      Pemindahan penyakit
3.      Kekebalan terhadap penyakit
4.      Tanda-tanda penyakit
5.      Kontrol penyakit
Penyakit pada ternak dapat disebabkan oleh organisme hidup, dan oleh bukan organisme hidup. Pemindahan penyakit dapat terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung. Cara langsung adalah pemindahan penyakit dengan cara kontak langsung antara ternak yang satu dengan ternak yang lain. Sedangkan cara tidak langsung adalah cara perpindahan penyakit melalui perantara yaitu banda hidup maupun benda mati.

1 komentar: